Film Barat

Sekuel Wonder Woman Jadi Film Paling Dinantikan Tahun Depan

Dominasi waralaba seperti DCEU dan MCU telah merilis sejumlah judul tayang movie dan mendapatkan sambutan yang sangat positif dari para penggemarnya. A24 merupakan studio film yang sebelumnya memproduksi Moonlight, Lady Bird, Midsommar, dan The Lighthouse. Mills sendiri merupakan sutradara Beginners dan movie pendek I Am Easy to Find.

Inti dari film ini adalah hubungan Ibu dan anak juga bagaimana perbedaan cara pandang perempuan yang dipengaruhi era dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Meskipun durasinya cukup lama yaitu mencapai dua jam, film ini tidak membosankan karena diselingi oleh pertunjukan musik di klub dan berbagai montase yang memperlihatkan berbagai era dan memperkenalkan tiap karakter.

Pencapaian itu tidak lepas dari kesan genuine dan juga actual yang berhasil karakter dan juga cerita ciptakan. Berpusat pada Jamie dan juga para wanita yang ada di sekitarnya ‘20th Century Women’ berhasil menyajikan esensi yang kita harapkan dari humanity dengan menggunakan hal-hal klasik seperti “pendapat” misalnya hingga perbedaan generasi. Comedy tidak pernah lupa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik namun di sisi lain Mike Mills tetap menjaga agar hal-hal terkait life yang terkandung di dalam cerita terus mengisi middle atau pusat di panggung utama cerita. ‘20th Century Women’ is about life, sebuah kisah tentang bagaimana belajar tentang cinta begitu juga dengan benci hingga putus asa, hal tersebut dengan proses discovering out serta uncover sebagai penggerak utama. Mike Mills mencoba mengajak penontonnya untuk merasakan tentang hidup di movie ini, dan dia berhasil melakukan itu dengan baik lengkap bersama emosi yang sukses memelintir penontonnya.

Isu yang sampai detik ini masih menjadi permasalahan nyata, mulai dari feminisme hingga seksualitas. Bintang utamanya tentu saja Annette Bening, tidak hanya berhasil membuat Dorothea menjadi wanita yang worrisome dan weak namun iajuga berhasil “mengundang” masuk penonton ke dalam kehidupannya. Bening was great namun kinerja akting Greta Gerwig dan Elle Fanning juga sama kuatnya di sini. Berperan sebagai wanita “aneh” Gerwig berhasil menyuntikkan kontras yang pas bagi Abbie, her finest work thus far, sedangkan Fanning tampil baik sebagai remaja dengan masa remaja yang membingungkan itu. Dua pemeran pria berhasil menjadi pelengkap yang baik, Zumann dalam menampilkan ache yang dirasakan Jamie, sedangkan Billy Crudup selalu sukses mencuri atensi sebagai pria delicate bernama William.

Sutradara Mike Mills mengatakan bahwa ia menggunakan pengalamannya ketika masih remaja sebagai dasar atau basic bagi cerita film ini, hal yang kemudian dengan piawai ia bentuk menjadi sebuah “dunia” kecil yang menarik untuk diamati dan dinikmati. Ruang bermain bagi lima karakter memang tidak terasa sangat luas tapi di dalam dunia kecil itu Mills dengan terampil menghadirkan berbagai hal yang kemudian membawa kamu untuk bertemu dengan berbagai “knowledge” yang terasa ringan namun tajam. Dari tentang waktu, manusia, youth, hingga juga human spirit, mereka berpadu dengan manis bersama sentuhan comedy yang tidak kalah bersinar di samping mereka.

Jamie yang masih labil dan merasa mulai susah berkomunikasi dengan ibunya, menganggap dunia perempuan adalah hal yang rumit dipahami tapi menarik. Ia mulai gemar berdiskusi dengan Julie tentang hubungan pria dan wanita, juga membaca buku-buku feminis yang diberikan oleh Abbie, membuat Ibunya terheran-heran karena putranya memiliki minat terhadap hal intim seputar perempuan. Chariman and Co-Founder Atom Tickets, Matthew Bakal, menyatakan dirinya senang bahwa sebagian besar movie yang memiliki antusias tinggi dari penonton melibatkan karakter utamanya yang seorang perempuan. Dorothea Fields berusaha mengajarkan mengenai cinta, hubungan antar manusia, dan kebebasan pada Jamie dengan caranya sendiri. Ia bertemu dengan orang-orang disekelilingnya, yang tanpa disadari mengajarkan banyak hal pada Jamie.

Suatu ketika Jamie mulai mempertanyakan perihal sang ayah, hal yang berhasil “mengganggu” dirinya. Dorothea memutuskan meminta bantuan pada William, Abbie, dan juga Julie untuk membantunya memberikan “jawaban” pada Jamie.

pada dasarnya merupakan sebuah kisah coming of age namun dibentuk sedemikian rupa oleh Mike Mills sehingga menciptakan kesan segar yang menyenangkan. Salah satunya adalah dengan menggunakan permainan perspektif di mana di sini kita bertemu dengan tiga wanita yang menjadi “teman” Jamie.

Tidak hanya membuat kemunculan feminist perspective yang terasa oke saja namun hal tadi juga menciptakan kesan quirky kental di dalam narasi ‘20th Century Women’ yang diartikulasi dengan baik oleh Mills. Terdapat isu terkait evolving di dalam pertanyaan yang sedang “mengganggu” Jamie tadi dan hal tersebut menarik masuk berbagai hal lain yang memiliki keterkaitan dengan proses berkembang tadi secara slick dan cantik ke dalam cerita. Pada tahun 1979 di Santa Barbara, single mom bernama Dorothea hidup bersama anaknya Jamie , mereka hidup di sebuah rumah yang dapat terus “hidup” berkat bantuan William .

20th Century Women adalah sebuah selebrasi nostalgia yang terasa personal dari Mike Mills. Naskahnya memang cenderung datar tanpa sebuah klimaks konflik yang benar-benar “nendang”, namun ada banyak semacam life-lessonyang bisa diambil. Setting 70-annya memikat, scoring music dan aspek visualnya menawan, dan deretancast-nya yang dipimpin oleh Annette Bening juga luar biasa.

Cerita Film 20th Century Women

dan Julie sahabat Jamie yang 2 tahun lebih tua, seorang gadis yang insurgent dan subversif. Mereka juga tinggal bersama William , seorang mekanik dan tukang kayu yang berjiwa hippie.

Sinopsis Little Women, Film Greta Gerwig Yang Rilis 25 Desember

Cerita Film 20th Century Women

Script berhasil menampilkan kisah yang klasik itu menjadi sebuah sajian yang segar dan juga menggambarkan life dengan cara yang unik. Narasi memang terasa cukup loose tapi tetap terdapat irama dan juga punch yang konsisten memikat di dalam story strains, berbagai kalimat yang dilontarkan oleh karakter bahkan sangat quotable. Penggunaan visual dengan Sean Porter sebagai cinematographer juga tidak kalah menariknya terutama pada atmosfir cerita dibantu kontribusi dari bagian design baik itu production maupun costume serta musik dari Roger Neill. Namun disamping berbagai elemen teknis tadi elemen yang dapat dikatakan berdiri sejajar dengan pengarahan dan script dari Mike Mills adalah kualitas kinerja akting dari para aktor dan aktrisnya.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button